Saya diperlihatkan dengan mahluk yang bernama komputer oleh ayah saya ketika saya masih duduk d bangku sekolah dasar,  saya tidak tahu spesifikasi komputer yang ayah saya bawa, karena pada saat itu saya sangat  gemar bermain konsol seperti sega dan nintendo sebagaimana anak seusia saya pada saat itu, pun demikian dilakukan di komputer ayah saya, jadi saya tidak memikirkan tentang komputer apalagi mendalaminya, yang saya tahu komputer tersebut masih menggunakan disket yang sangat besar, bukan yang kecil (1,44 mb)  loh..

Pada saat duduk di tingkat aliyah, di sekolah saya ada program studi baru, yaitu AGICT-ICDL. AGICT yang kepanjangan dari AL-Zaytun Global Information and Communication Technology yang mendapat lisensi dari ICDL, International Certificate Driver Lisence. Kemudian saya tertarik untuk mengikuti program studi yang kalau bahasa kitanya sih kursus komputer tapi bersertifikat internasional.

Sertifikat komputer itu yang sebenarnya membuat saya tertarik dengan program ini. karena impian saya yang terpendam yaitu ke luar negeri, bukan jalan-jalan loh, minimal kuliah kalau ga bisa gawe.. hehe,,

Setelah lulus dengan passing grade yang lumayan, rata-rata 90, padahal banyak yang dapet 95 bahkan 100, jadi minder deh,, hehe… Datang lagi sertifikasi dari NCC Education (National Computing Center), yaitu ICCS saya ikut perkuliahan ini1 semester saja karena tidak sanggup dengan biayanya, Lumayan mahal sih.. pada perkuliahan ini saya dapat passing grade yang kurang memuaskan, karena pada saat itu fokus saya terbagi 2, perkuiahan ICCS dan lulus UAN (Ujian Akhir Nasional)

Sebelum saya kuliah di STTI ITech Jakarta, saya sempat mengenyam pendidikan di NTC, bandung selama 2 tahun. Dan sekarang merupakan salah satu dari mahasiswa yang memasuki semester semi akhir.

Kemana setelah menjadi sarjana IT?

Bidang IT termasuk bidang yang unik, karena banyak sekali pebisnis dan tokoh-tokoh IT lahir justru karena kekuatan karakter dan kreatifitas. Tau Bill Gates dan Paul Allen kan? itu loh pemilik Microsoft, kemudian Jerry Yang, yang bersama David Filo, sahabatnya menjadikan yahoo! sebagai bisnis.

Keunggulan yang diperoleh seseorang karena pengakuan dan penghargaan publik terhadap hasil karya, produk, ide dan perjuangan yang dilakukan adalah merupakan keunggulan defacto. Sebaliknya keunggulan yang diperoleh seseorang karena gelar (degree), sertifikasi (certification) dan pengakuan formal, sering di sebut sebagai keunggulan dejure. Bisnis dan peluangnya bisa lahir dari keunggulan defacto maupun dejure, dan keduanya bisa saling melengkapi.

Bill Gates, Kevin Mitnik, Steve Jobs, dan William Joy, adalah nama-nama yang besar di dunia IT karena keunggulan defacto mereka. Orang mungkin juga lupa bahwa Jerry Yang adalah seorang akademisi yang menguasai dengan baik teori-teori dasar komputasi. Meskipun dia lebih terkenal karena sebagai founder dari Yahoo.Com. William Joy yang lulusan the University of California Barkeley, justru lebih terkenal karena sebagai pendiri dari Sun Microsystems. Bill Gates dan Kevin Mitnik juga memberikan nyata bagaimana keunggulan defacto menjadi sesuatu hal yang dominan dalam terlahirnya sebuah bisnis.

Fenomena ini telah dikaji secara mendalam pada laporan khusus Gartner 2006 (Gartner Predictcs 2006 Special Report), meskipun dengan terminologi yang berbeda. Diramalkan bahwa pada tahun 2010 pasar kerja para spesialis IT akan berkurang hingga 40%. Para spesialis (specialist) ini akan digantikan oleh versatilis (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Dengan degree dan sertifikasi, kita mungkin akan bisa menjadi seorang spesialis dalam suatu bidang (keunggulan defacto). Tapi ternyata ini saja tidak cukup, diperlukan kemampuan verbal, komunikasi memberi solusi dan berhubungan dengan orang lain (keunggulan defacto). Ini yang disebut dengan seorang versatilis, dan versatilis bukanlah generalis yang tahu banyak hal tapi dangkal atau hanya kulit-kulitnya saja.

Inilah jalan untuk survive dan menjadi seorang entrepreneur di dunia IT. Dan Sumber Daya Manusia (SDM) IT Indonesia, sejak dini sebaiknya diarahkan untuk memiliki kombinasi kedua keunggulan tersebut. Di satu sisi kita mahasiswa-mahasiswa selalu diarahkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain kita juga seharusnya diajak untuk aktif dan kreatif lewat kerja-kerja unik yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Memberi kesempatan kepada kita untuk mengerjakan berbagai project atau mengembangkan produk yang bisa kita jual.

Banyak orang yang ingin mencontoh Bill Gates, termasuk pula saya. Maka dari itu saya mempunyai hasrat terpendam lainnya, selain kuliah atau gawe di luar negeri tentunya, yaitu menjadi entrepreneur dan memiliki sebuah perusahaan, yang bergerak di bidang IT, rintisan ini sudah saya mulai saat saya diminta untuk membuat sistem manajemen pergudangan untuk CV. Ajarwintyas Putra Wijaya, sebenarnya sih itu anak perusahaan dari CV. Wijaya, yang bergerak dibidang kontraktor, perkebunan dan perhutanan dan peternakan walet. Keduanya masih perusahaan keluarga, jadi tidak dapet profit deh.. hehe.. tapi tidak apa, toh ini juga perusahaan keluarga yang notabene milik saya juga.. hahaha…

Kemudian selain kemampuan dan keahlian kita juga harus bisa menjual hasil kita kepada orang atau perusahaan yang

Saya membaca pesan dari bapak Romi Satria Wahono, pendiri ilmukomputer.com, mungkin juga dapat berguna untuk rekan-rekan yang ingin mendaki jalan hidup sebagai seorang entrepreneur di bidang IT:

  • Sistem operasi, bahasa pemrograman, software dan teknologi hanyalah  sebuah tool (alat) yang harus kita kuasai dan gunakan untuk memecahkan masalah. Tool tersebut bersifat tidak kekal, dan bukanlah agama yang harus dianut atau difanatikkan seumur hidup. Ketergantungan terhadap sebuah tool adalah kebodohan. Debat kusir tentang tool dan saling mengumpat atau membela mati-matian sebuah tool adalah tindakan sia-sia, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
  • Setiap peluang memiliki nilai untung dan rugi, setiap keputusan yang diambil dalam hidup harus memperhitungkan opportunity cost yang harus dibayar. Ketika kita harus mengambil cuti kuliah untuk mengerjakan sebuah project IT, harus diperhitungkan benar seberapa jauh cost yang kita keluarkan untuk mendapatkan pengalaman tesebut.
  • Pembelian buku dan komputer harus kita anggap sebagai sebuah investasi. Kita harus produktif menggunakan buku dan komputer untuk menghasilkan keuntungan baik material maupun pengalaman.
  • Cerdas dalam mengambil berbagai peluang yang ada dan usahakan mengemasnya dalam sebuah karya dan produk yang menjadi solusi bagi orang lain.
  • Mengambil kesempatan kerja part time atau full time sebagai proses pembelajaran dan melatih diri secara riil di dunia industri.
  • Latihlah kemampuan verbal. Diantara kesibukan berkomunikasi dengan mesin (komputer), tetap latih teknik dan strategi berkomunikasi dengan manusia. Berlatihlah menyampaikan pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai dengan bahasa sederhana dan dapat dipahami dengan mudah oleh orang awam sekalipun.
  • Bangun jaringan (networking) dan kerjasama dengan berbagai pihak. Setiap pertemuan dengan orang lain, siapapun dia, akan membawa manfaat bagi kita, meskipung kadang-kadang tidak langsung datang seketika.

Siapapun kita, apapun degree kita, apapun bidang kerja kita, asal kita sudah berniat untuk terjun di bisnis dan industri IT, kita bisa mulai dari keunggulan defacto dan dejure yang kita miliki. Jadi pebisnis IT, siapa takut?

Selamat Datang di Blog Sekolah Tinggi Teknologi I-Tech. Ini merupakan posting pertama anda. Edit atau delete posting ini, lalu mulailah blogging!

    
Ardian Tri Adithya is based on WordPress platform, RSS tech , RSS comments design by Gx3.